Novel di Prancis sebelum tahun 1945
Disusun oleh Ade Risty Yulandari 235110300111019
“It is only with the heart that one can see rightly, what is essential is invisible to the eye.” Kutipan yang berasal dari buku The Little Prince karya Antoine de Saint-Exupéry ini adalah salah satu ungkapan yang sangat ikonis dalam karya sastra. Karya sastra Prancis sejak dahulu sudah memiliki daya tarik tersendiri. Kembali ke masa lampau, jauh sebelum Prancis modern saat ini, terdapat satu masa yang sering disebut sebagai masa keemasan atau masa yang indah ‘La Belle Époque’ periode ini adalah masa ketika Prancis bersinar tidak hanya di bidang seni dan budaya namun juga teknologi yang berkembang pesat. Prancis juga berhasil menjaga perdamaian dengan negara-negara tetangga di kawasan Eropa. Angka buta huruf menunjukkan penurunan, dan penerbitan buku pun tumbuh subur sehingga penghargaan kesusastraan bermunculan. Di balik gemerlap-nya lampu kota, teknologi baru yang menunjukkan kemajuan mulai mengubah cara hidup masyarakat. Kereta api menghubungkan kota-kota, sementara kafe-kafe di Paris menjadi tempat berkumpul para seniman dan penulis untuk berbagi ide yang cemerlang. Di tengah suasana ini, sastra Prancis juga berkembang pesat. Sastrawan tidak hanya menuliskan cerita, tetapi juga merefleksikan perubahan besar di masyarakat. Banyak novel yang ditulis pada masa La Belle Époque menunjukkan perkembangan budaya, politik, dan sosial masyarakat. Beberapa novel yang terkenal dari periode ini menunjukkan ketegangan sosial, kemewahan, dan perubahan besar dalam kehidupan manusia.
Selama La Belle Époque (sekitar 1871–1914), terdapat beberapa buku terkenal, seperti:
❖ À la recherche du temps perdu (In Search of Lost Time)
Karya Marcel Proust yang terbit pada tahun 1913. In Search of Lost Time, adalah salah satu karya sastra dari periode ini. Novel ini membahas tentang kehidupan bangsawan dan kaum borjuis di Prancis yang disertai dengan pencarian identitas. Proust menggabungkan aspek memori, nostalgia, dan kesadaran akan batas waktu yang sangat terasa menjelang permulaan perang. Di dalam novel ini tidak hanya menggambarkan keindahan dan kerumitan pada masa La Belle Époque, tetapi juga menunjukkan perubahan sosial yang terjadi. Novel ini sangat berbeda dari yang lain karena Proust membawa pembaca masuk ke labirin memori dan perasaan. Setiap momen digambarkan dengan detail dan sangat menarik.
❖ Du côté de chez Swann (Swann's Way)
Novel karya Marcel Proust yang terbit pada tahun 1913 ini merupakan bagian pertama dari À la recherche du temps perdu, novel ini menunjukkan gaya khas Proust dalam mengungkapkan perasaan dan kenangan. Kisahnya berfokus pada seorang pria muda yang mengingat kembali kenangan akan keluarga dan kekasihnya, serta kehidupannya di Prancis saat itu. Karya ini menggambarkan kehidupan sosial di akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 yang penuh dengan perkembangan dan konflik.
❖ À Rebours
À Rebours adalah novel karya Joris-Karl Huysmans, seorang penulis Prancis yang diterbitkan pada tahun 1884. À Rebours diyakini sebagai “novel Prancis yang beracun” yang menyebabkan kejatuhan Dorian Gray dalam novel The Picture of Dorian Gray karya Oscar Wilde. Alur cerita À Rebours dikatakan telah mendominasi tindakan Dorian, menyebabkannya menjalani kehidupan yang amoral, penuh dosa, dan hedonisme. Buku ini sering disebut sebagai “kitab suci dekadensi” karena menggambarkan pelarian dari realitas ke dunia estetika.
Novel-novel dari periode La Belle Époque tidak hanya sekadar sebuah cerita, namun juga menjadi kritik sosial. Para sastrawan menggambarkan gaya hidup kaum borjuis di Prancis, mengungkapkan konflik antara kebebasan individu dan norma tradisional, serta mulai mengangkat isu-isu feminisme. Dengan narasi yang menjadikan karya-karya ini menantang cara berpikir masyarakat pada zamannya. Meskipun masa La Belle Époque terlihat begitu indah dan gemerlap, masa ini juga menyimpan sisi gelap. Kesenjangan sosial dan ketimpangan ekonomi masih menjadi isu yang sering ditampilkan dalam karya-karya realis seperti Thérèse Raquin karya Émile Zola. Ketika dunia berubah begitu cepat, novel menjadi jembatan antara realitas dan imajinasi manusia. La Belle Époque adalah momen ketika dunia tersenyum sebelum realitas keras Perang Dunia merenggut mimpi setiap manusia. Novel-novel pada masa La Belle Époque menggambarkan kehidupan dengan penuh estetika, seolah tahu bahwa perang akan merusak segalanya.
Bagi masyarakat yang hidup di masa La Belle Époque, Perang Dunia I seperti sebuah “tamparan keras” yang harus dihadapi, sebuah momen dimana mereka harus menghadapi kenyataan bahwa dunia tidak selalu indah seperti yang mereka bayangkan. Karya-karya sastra pasca-perang mulai menggambarkan kerapuhan dan absurditas dari kehidupan yang sebelumnya dianggap mulia. Dalam karya-karya seperti All Quiet on the Western Front oleh Erich Maria Remarque dan Le Feu oleh Henri Barbusse, perang digambarkan sebagai penyakit yang menggerogoti esensi kehidupan itu sendiri dan menghancurkan keindahan yang sebelumnya dihargai.
Selama Perang Dunia I (1914-1918), banyak novel yang menggambarkan kehancuran, trauma, dan pergulatan manusia melawan ketakutan akan kematian, serta dampak perang terhadap individu dan masyarakat. Pada periode tersebut, novel-novel ini menggambarkan dampak perang dan perubahan sosial yang terjadi di Prancis:
❖ Le Feu (Under Fire)
Merupakan novel karya Henri Barbusse yang terbit pada tahun 1916. Novel ini menjadi salah satu novel paling terkenal yang terbit selama Perang Dunia I, Le Feu (Under Fire) adalah karya yang menggambarkan kehidupan prajurit di medan perang. Barbusse, yang juga seorang veteran perang, menyajikan pandangan yang sangat realistis dan penuh penderitaan tentang bagaimana perang dapat mengubah manusia. Novel ini berfokus pada pengalaman kolektif para tentara Prancis yang berjuang di Front Barat. Sebagai karya yang menggambarkan kemanusiaan di tengah kekejaman perang, Le Feu memenangkan penghargaan Prix Goncourt pada 1916.
❖ Les Éparges
Karya Maurice Genevoix yang terbit secara terpisah pada tahun 1916 dan 1923. Les Éparges adalah karya yang ditulis oleh Maurice Genevoix, yang juga seorang veteran Perang Dunia I. Novel ini menggambarkan kesulitan para prajurit Prancis di medan perang dan suasana yang penuh kengerian serta penderitaan. Genevoix menulis tentang efek perang terhadap identitas dan semangat juang tentara, serta bagaimana perang menumbuhkan rasa persaudaraan di antara mereka yang bertahan hidup.
❖ La Condition Humaine (Man's Fate)
Karya ini adalah salah satu novel terkenal oleh Malraux yang terbit pada tahun 1933 dan berfokus pada Perang Saudara Tiongkok tahun 1927. La Condition Humaine menggambarkan perjuangan para revolusioner yang terlibat dalam pergolakan politik dengan karakter karakter yang berjuang untuk menemukan makna kehidupan di tengah penderitaan dan kehancuran perang. Meskipun latar belakangnya bukan langsung Perang Dunia I, novel ini sangat dipengaruhi oleh tema tema perang dan kehancuran yang terjadi selama periode tersebut. Buku ini berhasil memenangkan Prix Goncourt dan banyak dianggap sebagai karya puncak Malraux, karena ia menggali tema kemanusiaan dalam konteks krisis sosial dan politik yang ekstrem.
❖ Les Conquérants (The Conquerors)
Merupakan karya dari Malraux yang terbit pada tahun 1928. Dalam Les Conquérants, Malraux mengisahkan perjalanan para individu yang terlibat dalam perjuangan revolusioner di Asia. Novel ini menyentuh pengalaman perang dan menggambarkan realitas brutal yang dihadapi oleh orang-orang yang terlibat dalam pertempuran, serta dampak psikologis dan moral bagi setiap individu.
❖ Terre des Hommes (Wind, Sand and Stars)
Wind, Sand and Stars (Terre des Hommes) adalah buku memoar karya Antoine de Saint-Exupéry yang terbit pada tahun 1939 di Prancis. Buku ini menceritakan petualangan Saint-Exupéry dan juga menggambarkan pandangan penulis tentang dunia dan apa yang membuat hidup layak dijalani. Insiden utama yang ditulis dalam buku ini adalah kecelakaan pesawatnya tahun 1935 di Gurun Sahara. Novel ini lebih banyak berfokus pada tema manusiawi seperti perjuangan hidup, pengorbanan, dan hubungan antara manusia dengan alam. Meskipun ini bukan tentang perang, buku ini sangat dipengaruhi oleh rasa keterasingan dan kehancuran yang dialami oleh mereka yang hidup di bawah tekanan perang.
❖ Le Petit Prince (The Little Prince)
Novel ini merupakan salah satu karya yang paling terkenal dari Saint-Exupéry yang terbit pada tahun 1943. Novel ini lebih banyak berbicara tentang tema tema filosofis, seperti arti kehidupan, kemanusiaan, dan pengorbanan. Le Petit Prince dipandang sebagai refleksi terhadap kehidupan dan dunia yang hancur akibat perang, dengan cerita yang menggunakan kisah seorang pangeran kecil yang bertemu dengan berbagai karakter di planet-planet yang berbeda sebagai metafora kehidupan manusia yang penuh dengan ketidakpastian dan pencarian akan makna kehidupan.
Karya-karya sastra Prancis setelah Perang Dunia I banyak menggambarkan dampak perang terhadap individu dan masyarakat. Henri Barbusse menceritakan dengan jujur tentang kekejaman dan absurditas perang melalui pengalaman para prajurit. Sedangkan André Malraux dan Antoine de Saint-Exupéry lebih menyoroti tema-tema seperti kemanusiaan, pengorbanan, dan perjuangan dalam konteks sejarah pasca-perang. Karya Le Feu oleh Henri Barbusse
menggambarkan bagaimana perang mengubah kehidupan masyarakat secara fisik dan mental. Sementara itu, dalam karya La Condition Humaine, André Malraux mengeksplorasi dampak revolusi dan perang terhadap semangat individu. Antoine de Saint-Exupéry juga menggunakan pengalamannya sebagai pilot dalam karya seperti Terre des Hommes dan Le Petit Prince untuk menyoroti perasaan terasing dan karya-karya ini membawa narasi tentang pencarian makna hidup di tengah keruntuhan dunia yang sebelumnya dipenuhi oleh harapan dan kemajuan. Dengan beragam pendekatan ini, para sastrawan Prancis menghadirkan gambaran yang kuat tentang penderitaan dan konsekuensi perang. Perjalanan dari masa La Belle Époque menuju perang dan kemudian ke masa setelah perang, menggambarkan pergeseran besar dalam nilai dan pemahaman manusia tentang keberadaan dan tujuan hidupnya. Karya sastra Prancis sebelum dan sesudah Perang Dunia I saling berhubungan erat menggambarkan perubahan mendalam dalam kehidupan sosial dan pribadi masyarakat. Masa La Belle Époque memberikan latar belakang dunia yang gemerlap dan penuh kemajuan kemudian berakhir dengan kehancuran yang diakibatkan oleh perang, dan hasilnya adalah karya sastra yang lebih gelap, lebih reflektif, dan lebih kritis terhadap dunia yang telah berubah.
Sumber:
http://www.jstor.org/stable/10.7312/kali20208.8
https://c2o-library.net/2008/09/a-rebours/
https://mcgillchannelundergraduatereview.com/2023/03/the-threat-of-realism-in-a-rebours and-the-picture-of-dorian-gray/
https://www.britannica.com/art/French-literature/From-1900-to-1940
https://www.britannica.com/biography/Henri-Barbusse
https://encyclopedia.1914-1918-online.net/article/le-feu-novel-1-1/


Komentar
Posting Komentar